Senin, 09 Desember 2019

Pak tua

Pak tua
terbaring di atas kursi lesu
bertemankan bantal di kepala
tidur dengan dendam di dalam cerita yang sulit mensyukuri kehidupannya
Ini cerita
aku butuh bacaan, narasi, berita pada faktanya
Pak tua
dengan dendam mengutuk diri.
bagi pikiran
bagi hati
(Rantauprapat, 26 oktober 2016)

Ada tiada

Ada tiada mengapa harus ada
Seiring jalannya akan tiada

Ada tiada
Apakah mesti tiada
Setelah mengetahui akan ada

Ada tiada
Cerita yang mempunyai kisah sepertinya

Rantauprapat,12 April 2016

Kebisingan kota Rantauprapat



hilir mudik kendaraan berlalu lalang 
memenuhi tujuan
sedangkan aku 
kutemui diriku
seperti babu
menjadi pesuruh yang setia pada omongan itu
kebisingan kota Rantauprapat 
membuat seluruh hidup ini 
jadi lebih hidup
jadi lebih terbuka
untuknya yang telah membuat seluruh 
detak nadi bergetar
tak menentu
udara panas terpanggang 
jadi abu sudah mimpi.
ia kupandang bergelut, bercampur dengan benda-benda kertas
yang corak bernilai nominal
mengubah nasib, kutemui, kau temui dan mereka temui
hati pikiran tak searah, karnanya!
keramahan membuat aku menjadi cupu
siapa yang sudi mengerti tentang hal itu 
argumen itu!
senggakan merupakan hal yang paling keren 
menurunkan tetes demi tetes air yang mengepul
mengapa tak sudi mengerti, dan menerima!
(Rantauprapat, 15 februari 2017)

selembar puisi ini

Petualangan puisiku
Ia berkenalan mulanya!
Mengikat kata ke kata
Menyusun garis jika di artikan lukisan keindahan
Berbaur dengan warna – warna menjadi arsitektur mungkin
Petualangan puisiku semesta yang ramai untuk tumbuh - tumbuhan
Mencari jalannya menemukan arahnya
Kadang tak bermakna
Ada pula yang menjadi pedoman orang lain
Petualangan puisiku, menjadi kisah hidupmu dan juga hidupku berbaur menjadi satu.
Dari ambisi bunga yang layu suasana terpatri engkau ada disana!
Seperti melihat ibu menyulam
menyatukan yang terpisah, berbaur merangkai keindahan dalam rona pandangan
menerima segala kemungkinan - kemungkinan yang kadang memilukan hadir dari kehidupan kita
menyesakkan dada, memburamkan gairah mimpi yang kita punya
sifat nya begitu?
Bagaimana jika menerima adalah salah satu modal usaha terbesar untuk tidak pasrah
menghadapinya?
Menyesakkan dada, memburamkan gairah mimpi yang kita punya
Pasti tepihkan segalanya.
Lega terdapat di dalamnya

Inilah petualangan puisiku, berarti Lah!!



ketika tertidur.docx



Pak tua
Pak tua
Terbaring di atas kursi lesu..
Bertemankan bantal di kepala
Tidur dengan dendam di dalam cerita
yang sulit mensyukuri kehidupannya
ini cerita
pak tua dengan dendam mengutuk diri.
Aku butuh bacaan, narasi, berita pada faktanya
Bagi pikiran
Bagi hati
(Rantauprapat, 26 oktober 2016 )












Rantauprapat di petangnya hari
Ku sambut maghrib menjelang datang.
Selesai melaksanakan ibadah-Nya.
Kupadang langit nan tinggi menjulang
Bulan dan bintang sinarnya
Menerangi malam, takjubku syukuri
Nikmatnya hari….
(27, januari 2017)
















Terbayang ketika tertidur
Untaian kata terus menjejali isi pikiran berbuah senyum untuk diri sendiri
Ketika terbayang saat kurebahkan terpandang hiasan langit ini
Masih tetap begini saat siang itu tiba
Bagaimana menyelesaikannya dan mencari pengertiannya. Seakan-akan khayalan tidak begitu berpihak kepadanya
Sediakah beranjak dan hilang?
Mereka juga pernah merasakan hal yang sama
Mereka bahkan lebih parah dengan yang aku rasakan
Begitulah yang terlalui dari bagian diriku ini!
Nilai yang terdapat hanya masalah hari yang akan membawaku pergi
Tuk menemukan bagian dari diri
Ya bagian yang selaras berbanding keselarasan
(Rantauprapat 21 mei 2003)












Ringkasan materi, kopi dan arloji
Kita memutuskan untuk berjauhan
dimana ada ucapan di situ ada ceritanya
Ringkasan materi, kopi dan arloji
mengajak dan mencoba mendiskripsikan sebuah idealis, meleburlah!
Ada banyak jawaban di sela-sela pertanyaan
Apa yang terjadi kepada keinginan?
mengapa masih saja menggebu untuk di wujudkan?
(Rantauprapat 18 oktober 2016)

puisi 5 berjudul

Ya, wudhu
maka bersihkanlah saat membasuh wajah dan mata.
maka bersihkanlah saat membasuh tanganmu.
maka jernihkanlah pikiran kamu dengan membasuh kepala.
Maka bersihkanlah saat membasuh telinga.
Maka bersihkanlah dengan membasuh kakimu.

“kapan pun, dimana pun, membaca Saja‘‘.              

















Adanya sesuatu makanya berpikir
------------------------------------------------------
tengah malam
kopi hitam
pukul dua lewat tiga
alunan musik lalu wacana
aku masih terjaga
adanya sesuatu makanya berpikir
semua seperti semula
tidak ada yang berubah
yang ku tau
malam masih jauh menyambut mentari
aku masih berpikir
kenapa tidak tidur saja?

(Rantauprapat, 30 september 2016)
sebenarnya kegundahan itu keadaan hati. Berarti Keadaan yang tertuju pada kerumunan masalah












Hujan diiringi suara
-------------------------------
hujan-hujan menyemai ke kehidupan
bunga, pepohonan dan seisinya terselamatkan
suara-suara menghujam cakrawala
saat awan bebas mengembara
hujan diiringi suara
izinkan aku bermakna
(Rantauprapat, 30 september 2016)


















Anti biotik
Tubuhku
Di masuki angin
Sebagian orang menyebutnya angin malam
Sakit mendenyut
Denyut-mendenyut
Beli obat
Anti biotik
Ambil minum
Sakit berkurang
Sembuhpun datang….
(Rantauprapat, 10 september 2016)












Tidak jadi masalah

lingkunganmu seperti apa?
" itu tidak jadi masalah".
Jangan menyalahkan keadaan
Namun sulit untuk ku bergerak dan mengatakan.
Kadang keadaan jadi masalah
Kadang juga keadaan tersalahkan di pikiranku.
Namun dengan menerima
semua akan terlihat lebih baik.
Biarkan pada semestinya.














Puisi_5_buah


Di antara tiang-tiang
-------------------------
Dari masa aku kecil sampai kini
Kembali aku ke kota ini
Tidak ada perbedaan yang signifikansi…
Di antara tiang-tiang lampu jalan, merah ia mengundang emosi
Caci maki klakson berbunyi
Bak gendre rock di putar pada siang terangi
Dari masa aku kecil sampai kini
Kembali aku ke kota ini
Masih saja sama, seperti semula aku ada di sini
Tidak ada perubahan yang pasti….
Di antara tiang-tiang lampu jalan, hijau seperti rasa syukur yang tersungkur di depan mata yang mesti kalian tertawai
Hidup tak semuda kelihatannya, meskipun diriku tidak muda lagi.
Dan engkau mesti bersaing, kota ini mengajariku banyak hal dari. . . . .
Era kondisi sebelum lalu sesudah ada di sini
pada kenyataan
Harus bertahan

(Medan, 27 mei 2017)



Di kota ini
---------------

Jalan gajah mada medan
Jam satu malam lebih kurang
Sunyi lengang
Aku dalam kendaraan berjalan dengan santai
Lihat itu?
Ada apa, kataku sambil melihat….
Lihat itu, Segerobolan gadis tua di depan ruko
Gadis muda dengan make up tebal lalu rokok di tangan kanan
Menunggu di emperan jalan trotoar. Entah apa yang di tunggu
Mungkin kebiasaannya seperti itu menjadi terbiasa menunggu….
Siapakah mereka, kataku?
Mereka adalah kupu-kupu malam
Nadi bergetar, tercetus dari mulutku “iish, menjijikkan”
Roda kendaraan berputar kedepan saling berkejaran sesuai kodratnya
Terpandang Kiri dan kanan gedung pencakar langit tergilas kota ini
apakah seperti ini namanya kehidupan?

(Medan, 26 mei 2017)


Di antara tiang-tiang
-------------------------
Dari masa aku kecil sampai kini
Kembali aku ke kota ini
Tidak ada perbedaan yang signifikansi…
Di antara tiang-tiang lampu jalan, merah ia mengundang emosi
Caci maki klakson berbunyi
Bak gendre rock di putar pada siang terangi
Dari masa aku kecil sampai kini
Kembali aku ke kota ini
Masih saja sama, seperti semula aku ada di sini
Tidak ada perubahan yang pasti….
Di antara tiang-tiang lampu jalan, hijau seperti rasa syukur yang tersungkur di depan mata yang mesti kalian tertawai
Hidup tak semuda kelihatannya, meskipun diriku tidak muda lagi.
Dan engkau mesti bersaing, kota ini mengajariku banyak hal dari. . . . .
Era kondisi sebelum lalu sesudah ada di sini
pada kenyataan
Harus bertahan
(Medan, 27 mei 2017)











Di kota ini
---------------

Jalan gajah mada medan
Jam satu malam lebih kurang
Sunyi lengang
Aku dalam kendaraan berjalan dengan santai
Lihat itu?
Ada apa, kataku sambil melihat….
Lihat itu, Segerobolan gadis tua di depan ruko
Gadis muda dengan make up tebal lalu rokok di tangan kanan
Menunggu di emperan jalan trotoar. Entah apa yang di tunggu
Mungkin kebiasaannya seperti itu menjadi terbiasa menunggu….
Siapakah mereka, kataku?
Mereka adalah kupu-kupu malam
Nadi bergetar, tercetus dari mulutku “iish, menjijikkan”
Roda kendaraan berputar kedepan saling berkejaran sesuai kodratnya
Terpandang Kiri dan kanan gedung pencakar langit tergilas kota ini
apakah seperti ini namanya kehidupan?

(Medan, 26 mei 2017)












Sepatu berabu
dari sajak-sajak terpisah
---------------------------------------

Pemuda......
dengan handset di kuping
santak membaca buku
di kala bus berjalan
menuju tujuan masing-masing penumpangnya
lihat itu?
(kata seorang ibu kepada anak kecilnya yang asik dengan segudang pertanyaan yang harus ibunya jawab sampai tuntas dewasa kelak agar paham)
ia ibu, ada apa dengan abang itu!
celana panjang robek di lutut, rambut panjang tak teratur acak-acakan
jaket lie kusam hampir tak ada gairah hidup
tak punya masa depan kala memandangnya
ibu... ujar anaknya menghentikan
penilaian terhadap pemuda itu
ada apa anakku?
lihat sepatunya. berabu
ia anakku?
sepatu berabu ! apakah sepatu yang di kenakannya itu sangat jauh menjalani kehidupannya?
mungkin anak ku
mungkin juga tidak.......
bus berhenti, di simpang jalan.....
penumpang sebelah bangku Pemuda itu turun
di kernakan sudah sampai ketujuannya.
kembali bus berjalan
anak kecil pindah kebangku kosong
samping pemuda itu
ingin bertanya banyak hal dan mengujarkan perkataan tentang diskusi ibunya kepada pemuda itu.
sepatu berabu
dari sajak-sajak terpisah,
adik kecil? sapa pemuda itu
dengar ini kata pemuda itu "penilaian terhadap seseorang tidak hanya dilihat dari fisik luarnya saja, namun cara berpikirnya dari situasi di dalam hatiku"
dik kecil?
keadaan sekarang seperti inilah yang akan dirimu lihat di luar sana, kebanyakan orang....
waktu berlalu
pemuda itu pandang senyum ibu anak kecil itu.
senyuman cermin kepercayaan diri
(Medan, 2 juni 2017)


















menelaah buku-buku
----------------------------------

menelaah buku-buku
hidup di dalamnya
merupakan pengetahuan, kata dasarnya tahu, bukan malu bukan juga jadi benalu
menelaah buku-buku
jadi keistimewaan hati
jadi peka, telinga yang mendengar
kau yang membacakannya
meski berlembar-lembar halaman yang sudah engkau baca
sedikit banyaknya terpahami meresap jadi karakter.
menelaah buku-buku
seperti cahaya yang masuk menembus pikiran
melalui sinar mata
sumber dari rangkaian kata demi kata
juga.......
menelaah buku-buku
pada halaman awalan
kita semua di buat menunggu......
dibacakan!
( Rantauprapat, 2 juni 2017)








Puisi itu ramah
Saat ia hendak keluar dari diriku, menyentuh kata!
Kau kutip kata-kata sifat
kembali lagi menyusunnya dengan berpikir, harus ada makna!
Dari langit terpandang
ketika gelap hampa, tenang dan menyejukkan.
Kau dengar suara bunga
yang senantiasa membuat dirimu ingat.
tentang prosesnya tumbuh untuk keindahan
Bergetar jantungmu
semenjak bangun membangun kota…..
melumat habis pekarangan
tentang keindahannya bunga
sementara kau duduk di teras
Engkau temui hampa yang tak terang, disitulah mereka!
(Harus ada makna, Rantauprapat, 3 juni 2017)





Sepatu berabu
dari sajak-sajak terpisah
---------------------------------------

Pemuda......
dengan handset di kuping
santak membaca buku
di kala bus berjalan
menuju tujuan masing-masing penumpangnya
lihat itu?
(kata seorang ibu kepada anak kecilnya yang asik dengan segudang pertanyaan yang harus ibunya jawab sampai tuntas dewasa kelak agar paham)
ia ibu, ada apa dengan abang itu!
celana panjang robek di lutut, rambut panjang tak teratur acak-acakan
jaket lie kusam hampir tak ada gairah hidup
tak punya masa depan kala memandangnya
ibu... ujar anaknya menghentikan
penilaian terhadap pemuda itu
ada apa anakku?
lihat sepatunya. berabu
ia anakku?
sepatu berabu ! apakah sepatu yang di kenakannya itu sangat jauh menjalani kehidupannya?
mungkin anak ku
mungkin juga tidak.......
bus berhenti, di simpang jalan.....
penumpang sebelah bangku Pemuda itu turun
di kernakan sudah sampai ketujuannya.
kembali bus berjalan
anak kecil pindah kebangku kosong
samping pemuda itu
ingin bertanya banyak hal dan mengujarkan perkataan tentang diskusi ibunya kepada pemuda itu.
sepatu berabu
dari sajak-sajak terpisah,
adik kecil? sapa pemuda itu
dengar ini kata pemuda itu "penilaian terhadap seseorang tidak hanya dilihat dari fisik luarnya saja, namun cara berpikirnya dari situasi di dalam hatiku"
dik kecil?
keadaan sekarang seperti inilah yang akan dirimu lihat di luar sana, kebanyakan orang....
waktu berlalu
pemuda itu pandang senyum ibu anak kecil itu.
senyuman cermin kepercayaan diri
(Medan, 2 juni 2017)


















menelaah buku-buku
----------------------------------

menelaah buku-buku
hidup di dalamnya
merupakan pengetahuan, kata dasarnya tahu, bukan malu bukan juga jadi benalu
menelaah buku-buku
jadi keistimewaan hati
jadi peka, telinga yang mendengar
kau yang membacakannya
meski berlembar-lembar halaman yang sudah engkau baca
sedikit banyaknya terpahami meresap jadi karakter.
menelaah buku-buku
seperti cahaya yang masuk menembus pikiran
melalui sinar mata
sumber dari rangkaian kata demi kata
juga.......
menelaah buku-buku
pada halaman awalan
kita semua di buat menunggu......
dibacakan!
( Rantauprapat, 2 juni 2017)








Puisi itu ramah
Saat ia hendak keluar dari diriku, menyentuh kata!
Kau kutip kata-kata sifat
kembali lagi menyusunnya dengan berpikir, harus ada makna!
Dari langit terpandang
ketika gelap hampa, tenang dan menyejukkan.
Kau dengar suara bunga
yang senantiasa membuat dirimu ingat.
tentang prosesnya tumbuh untuk keindahan
Bergetar jantungmu
semenjak bangun membangun kota…..
melumat habis pekarangan
tentang keindahannya bunga
sementara kau duduk di teras
Engkau temui hampa yang tak terang, disitulah mereka!
(Harus ada makna, Rantauprapat, 3 juni 2017)












Catatan ku

Anak anak yang berkreasi, kreatif, lalu smart dan bermanfaat lainnya.. ialah lahir dari rahim ibunya yang begitu luar biasa kuat dan hebat. ...